ALKHAIRAAT

Ternate

Oleh: M. Zaimunir
Guru MA Alkhairaat Ternate

 

  • Tulisan ini pernah dimuat di harian Malut Post, 14 Jul 2015

 

Tahun ajaran 2015/2016 akan dimulai pada akhir bulan ini, di tengah-tengah kesibukan melaksanakan ibadah puasa, orang tua dan siswa juga disibukkan mempersiapkan dan memilih sekolah yang akan dituju sebagai tempat bagi anak-anaknya untuk menimba ilmu. Berbagai macam alasan dan pertimbangan orang tua sehingga mengambil keputusan untuk memilih dan mendaftarkan anak-anaknya di sekolah yang dikehendaki.

Ada yang beralasan karena sistem pendidikan, disiplin tinggi dan dedikasi para guru cukup tinggi, prestasi sekolah dan lulusannya cukup tinggi, tersedianya laboratorium dan fasilitas lain yang cukup lengkap, metode pengajaranya cukup baik dan mudah diterima, sekolah negeri sehingga minim biaya, dan tempatnya bagus serta strategis serta masih banyak alasan lain lagi yang orang tua sampaikan.
   

 Kota Ternate sebagai barometer pendidikan di Provinsi Maluku Utara, begitu banyak sekolah negeri maupun swasta dengan berbagai jenjang di kota ini menjadi pilihan orang tua. Bukan hanya dari dalam tetapi juga dari luar Kota Ternate untuk menitipkan putra-putrinya. Hal ini tentunya menjadi beban yang amat berat bagi pemerintah Kota Ternate dan pemerintah Maluku Utara pada umumnya untuk terus berpacu memperbaiki mutu dan kualitas sekolah guna memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut.

Ada hal yang menarik dari pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online, ternyata animo masyarakat kita masih menganggap bahwa pilihan madrasah sebagai tempat untuk menyekolahkan anak-anaknya  begitu minim peminatnya. Hal ini bisa saja berarti anggapan dari masyarakat bahwa madrasah adalah tempat yang kurang layak, terkesan sebagai lembaga pendidikan yang “second level” dan menjadi pilihan alternative setelah pilihan utama tidak diterima. 
    

Dari hal inilah muncul permasalahan mengapa sekolah umum  begitu  diminati masyarakat, sementara untuk madrasah tidak? dan bagaimana pula pertimbangan-pertimbangan orang tua–kaitannya dengan parental choice of education–melakukan pilihan terhadap lembaga-lembaga pendidikan tertentu bagi anak-anaknya? 

Signifikansi dari jawaban terhadap persoalan tersebut adalah berusaha memahami secara komprehensif dan integral. Pertama secara makro, memahami pergeseran kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan dengan cara memahami alasan (reason) orang tua dalam melakukan pilihan pendidikan terhadap anaknya. Kedua, secara mikro memahami kondisi internal kelembagaan madrasah dalam merespon kecenderungan-kecenderungan kebutuhan, tuntutan, dan harapan masyarakat.
    

 Madrasah memang memiliki latar belakang sejarahnya sendiri, walaupun sangat dimungkinkan ini merupakan konsekuensi dari pengaruh intensif pembaharuan dunia pendidikan dan arus globalisasi. Anggapan masyarakat saat ini bahwa madrasah masih terkesan sebagai pendidikan yang tradisional dan jauh dari sentuhan-sentuhan kemajuan. Oleh karena itu, kondisi tersebut secara alamiah berperan pula dalam membangun image masyarakat, bahwa madrasah identik dengan pendidikan yang terbelakang, proses penyelenggaraan madrasah itu diselenggarakan dengan apa adanya dan akhirnya termarginalkan.
    

Rendahnya animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah, jika dilihat dari perspektif fungsional - sebuah teori yang berpandangan bahwa masyarakat merupakan kesatuan sistem yang saling bergantung dan berhubungan , mengindikasikan dua hal yang saling berkorelasi. Pertama, terkait dengan problem internal kelembagaan. Kedua, terkait dengan parental choice of education.   Disamping itu dalam perspektif sosiologi, juga dipengaruhi oleh obsesi masyarakat dalam mobilitas sosial, dan pertimbangan-pertimbangan sosiologis; meningkatkan derajat statatus sosial, untuk memperoleh peran sosial yang tinggi dan bergengsi, dan seterusnya. Di sisi lain, juga dipengaruhi karena faktor emosional keberagamaan, emosional keorganisasian, aliran, sekte dan seterusnya.
    

 Keadaan seperti yang dikemukakan di atas menyimpulkan bahwa  masyarakat mempunyai image tentang lembaga pendidikan yang berlabelkan agama (madrasah) cenderung mengarah pada pendidikan yang terbelakang dan jauh dari kualitas pendidikan yang diharapkan. Image tersebut didasarkan pada beberapa faktor, di antaranya tidak terpenuhinya beberapa maksud pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dalam sektor agama, khususnya agama Islam.
Faktor-faktor tersebut antara lain adanya anggapan di masyarakat bahwa lulusan sekolah agama lebih-lebih para sarjananya dipandang nilai gengsinya lebih rendah dibandingkan dengan para insinyur, dokter dan sarjana-sarjana lain non agama (padahal banyak juga para pejabat dan pemimpin di daerah ini juga lulusan dari madrasah). Anggapan ini secara langsung maupun tidak telah membawa dampak psikologis dan kesenjangan sosial pendidikan, sehingga muncul anggapan bahwa sarjana-sarjana non agama dipandang memiliki masa depan jauh lebih baik dari pada sarjana-sarjana agama.”
    

Oleh karena itu, masyarakat enggan untuk menitipkan putra-putrinya ke lembaga pendidikan yang berlabelkan agama Islam (madrasah). Apalagi bagi mereka masyarakat yang termasuk dalam golongan “the have. Tentu mereka tidak ingin putra-putrinya menjadi gagal dalam pendidikan yang diakibatkan dari kesalahan penempatan pendidikan anak–anak mereka yang cendrung pada kurangnya fasilitas maupun rendahnya kualitas pendidikannya. Keadaan demikianlah yang menyebabkan munculnya alasan bagi mereka yang memiliki keuangan lebih untuk berbondong-bondong mempercayakan pendidikan putra-putrinya ke sekolah umum (favorit). Bahkan ke luar negeri atau daerah karena memiliki keuntungan lebih. Orang tua punya harapan besar ketika menanamkan investasi pendidikan bagi anak mereka bersekolah di sekolah favorit. 
    

Image masyarakat terhadap Madrasah sering pula diidentikkan dengan lembaga pendidikan second class, tidak maju, kurang modern, dan citra negatif lain masih sering menempel di madrasah. Citra madrasah seperti itu seharusnya diubah melalui unjuk prestasi dan unjuk bukti. Untuk mewujudkan madrasah yang berprestasi perlu langkah-langkah strategis yang harus dikembangkan oleh madrasah dalam membangun citra positif.  Sehingga ada akselerasi peningkatan kualitas madrasah.

Langkah-langkah yang harus diperhatikan oleh insan madrasah untuk mengantarkan madrasah yang memiliki citra positif  dan dapat diterima oleh masyarakat adalah madrasah harus mempunyai (1) visi dan misi yang jelas, (2) kepala madarasah yang professional, (3) guru yang professional, (4) lingkungan yang kondusif, (5) fasilitas yang memadai, (6) ramah siswa, (7) manajemen yang kuat, (8) kurikulum yang luas tapi seimbang, (9) penilaian dan pelaporan prestasi siswa yang bermakna, serta (10) pelibatan orang tua/masyarakat (stakeholder).
    

Menciptakan trend dalam dunia pendidikan pada saat ini menjadi sebuah tuntutan dan keharusan. Bila dikomparasikan dengan produk-produk elektronik, madrasah juga hendaknya lebih berani berinovasi meskipun disadari bahwa produk pendidikan tidak bisa dinikmati secara langsung. Keberanian berevolusi di bidang pendidikan di bawah Kementrian Agama menjadi sebuah tantangan agar stigma masyarakat yang menganggap madrasah sebagai kasta kedua perlahan-lahan akan pupus. Untuk menciptakan citra unggulan madrasah perlu mempertimbangan beberapa rumus. Pertama, be Inovative, menciptakan suatu produk terobosan yang baru. Istilah inovasi bisa diolah pada materi kurikulumnya, fasilitas pembelajarannya, atau pengajarannya, tenaga edukasi yang kreatif dan inovatif, seperti Madrasah Tsanawiyah Negeri Purwakarta dikenal sebagai madrasah hijau dengan produk pupuk serta obat-obat Herbal.
    

Kedua, be Different, bila inovasi sulit dicapai, maka membuat yang berbeda dari sekolah/madrasah lain juga merupakan jembatan yang tidak rumit. Seperti kalau pada produk makanan, lazimnya biji bakso itu berbentuk bulat, tapi kita bisa menciptakan bakso cinta, bakso bintang, bakso ikan bakar dan sebagainya. Restoran juga sering menyajikan menu dengan istilah yang aneh, seperti sotop petir, bakso rudal, bakso golf, sate betir. Tidak hanya di sini saja banyak produk jasa melengkapi dengan fasilitas hot spot untuk melayani user yang tanggap pada teknologi.
    

Ketiga be The Best, bila ingin menciptakan produk yang sama setidaknya kita bisa melayani dengan cara yang terbaik, dari fasilitas dan pengajar serta pengajaran yang terbaik. Maksud dari pelayanan yang terbaik adalah memberikan segala kelebihan di banding dengan sekolah/madrasah lain, dari segi fasilitas sampai dengan pelayanan. Pelayanan juga menyangkut kemudahan dalam mengakses segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah/madrasah yang bersangkutan. Keramahan wajib diterapkan supaya para pelanggan (siswa) merasa nyaman dan diperhatikan.
    

Usaha untuk mengkomunikasikan  peningkatan mutu dan keberhasilan madrasah di bidang pendidikan di daerah ini dapat dilakukan dengan berbagai cara.  Untuk masyarakat sasaran tingkat lokal, itu dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang menyebabkan masyarakat setempat tertarik untuk datang ke madrasah tersebut.  Expo madrasah, kegiatan olah raga dan kesenian yang melibatkan masyarakat setempat, kunjungan orang tua dan calon siswa ke sekolah (open day), keikutsertaan dalam pawai dan karnaval di kota sendiri, semuanya merupakan sarana untuk memperkenalkan dan mempublikasikan madrasah itu ke masyarakat dan mengkomunikasikan prestasi madrasah melalui media. 

Untuk masyarakat yang sasaran lebih jauh tempatnya, komunikasi dilakukan lewat brosur, kalender, cinderamata, majalah siswa madrasah, newsletter, atau surat kabar umum (lewat pemuatan berita kegiatan madrasah) atau membuka situs baik dalam bentuk situs resmi berbayar atau tak berbayar (blogspot, wordpress), ataupun forum-forum diskusi dalam dunia maya, semacam yahoogroup, facebook atau yang sejenisnya.  Sehingga stigma masyarakat tentang madrasah dari yang kurang baik perlahan-lahan akan berproses menjadi yang terbaik. Bahkan menjadi pilihan prioritas orang tua untuk menitipkan putra-putrinya. Semoga madrasah lebih baik, dan lebih baik madrasah. (*)