ALKHAIRAAT

Ternate

Oleh : Salma Bin Syekh Abubakar
(Guru Pendidikan Agama Islam, SMP Alkhairaat Ternate)
Tulisan ini pernah dimuat di harian Malut Post, 16 November 2017


Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan. Yang paling terasa adalah perkembangan teknologi informasi. Orang bisa menyelesaikan bermacam aktivitas hidup sambil duduk-dukuk santai di rumah ; belanja, nonton film, baca buku, bayar tagihan, transfer uang kepada anak yang sedang sekolah di luar daerah, dan sebagainya, hanya dengan memencet tombol-tombol virtual di smart phon yang terkoneksi internet.

Di samping itu, kemajuan teknologi komunikasi juga membuka lebar akses informasi lintas budaya di dunia. Implikasinya, terjadi pertukaran budaya yang sangat cepat, termasuk cara hidup bebas yang dianut masyarakat Barat yang sejatinya tak sejalan dengan budaya bangsa Indonesia yang banak dibentuk dari nilai-nilai luhur agama.

Dalam banyak segi, cara hidup Barat dinilai telah menggerus karakter bangsa, dan oleh banyak kelangan dituding menjadi penyebab memudarnya nilai-nilai luhur seperti gotong-royong, sopan santun, rasa malu, dan seterusnya.

Dunia pendidikan menjadi wilayah yang sangat sensitif akibat efek buruk kemajuan teknologi komunikasi ini. Harapan besar masyarakat ditumpahkan pada institusi pendidikan; berharap instiusi pendidikan mampu membangun fondasi jiwa yang kokoh kepada peserta didik agar berdaya menghindari segala yang merugikan mereka.

Secara umum, peserta didik berhadapan langsung  dengan rayuan indah dunia maya. Konsentrasi mereka akan terpecah,  mungkin waktu untuk memainkan ponsel akan lebih sering ketimbang waktu untuk mendalami mata pelajaran. Walaupun membawa smart phon di sekolah tidak diizinkan, mereka akan menikmati dunia digital saat pulang sekolah. Kebiasaan seperti ini akan mempegaruhi prestasi mereka di kelas.

Hasil survei kelas memberikan gambaran tentang hal ini; saya menanyakan penyebab siswa tidak konsentrasi dalam belajar. Ada dua alasan utama yang mengemuka; pertama, telah ada rasa senang saat menggenggam smart phon. Kedua, acara di televisi banyak yang bagus. Bila dahulu hanya ada satu channel televisi (TV) milik pemerintah, saat ini tersedia banyak pilihan TV dengan ragam program mendidik maupun tidak mendidik, yang juga dengan mudah bisa ditonton lewat smart phon. Artinya, kapan saja dan di mana saja setiap anak didik bisa mengakses informasi yang dapat mengalihkan konsentrasi mereka terhadap pelajaran sekolah.

Itulah penyebab mereka tidak konsentrasi saat di rumah atau di kelas yang dampaknya para pelajar mendapatkan hasil yang tidak memuaskan saat ada ulangan harian, ulangan tengah semester atau ulangan kenaikan kelas.

Dampak lanjutan yang paling menghawatirkan adalah merosotnya akhlaq peserta didik. Kita selalu menganjurkan anak didik untuk bersikap sopan dan tidak mengumbar hawa nafsu, namun saat bersamaan mereka terus dirangsang dengan cara yang sangat canggih dan secara bertubi-tubi. Budaya bebas dan individualistis akan sangat cepat mereka saksikan dari smart phon yang ada dalam genggamannya sehingga perubahan cara berpikir dan cara hidup tak terhindarkan.

Sesunggunya ini sudah terjadi ; bila standar nilai yang digunakan merujuk pada kebiasaan peserta didik di masa lalu, maka jelas terlihat terjadi perubahan pada etika dan sopan-santun seorang murid terhadap guru. Dahulu murid akan menunduk sambil menyapa bila ada guru yang melintas di depannya, sekarang murid cenderung cuek. Dahulu, bila murid melihat guru sedang mealukukan sebuah pekerjaan fisik maka dengan cepat sang murid akan menawarkan diri untuk menggantikan menyelesaikan pekerjaan itu, sekarang cenderung tak peduli. Mungkin kebiasaan-kebiasaan kecil ini tak sepenuhnya hilang, toh masih banyak juga murid yang tetap faham begaimana beretika di depan guru.

Namun untuk urusan aurat, sudah terlanjur vulgar. Selfie dengan ragam pose yang cenderung mempertontonkan aurat bukan hal yang memalukan lagi. Berpose intim bersama pacar juga sudah tak menimbulkan rasa risih, padahal pose-pose itu, selain bisa dilihat orang seluruh dunia ketika di-upload di media sosial, juga mengandung perbuatan dosa.

Tentu tak arif melimpahkan semua kesalahan kepada peserta didik. Bagaimanapun ulah mereka karena kemauan zaman. Mereka bisa bertingkah bebas melampaui batas-batas norma agama lantaran “diizinkan”  lingkungannya. Mereka berada dalam arus deras kebebasan, dan sangat muda hanyut tanpa tahu resiko yang akan menghampiri.

Usaha sekolah untuk membendung efek negatif yang timbul akibat kebebasan informasi hanya akan efektif bila dalam lingklungan keluarga anak didik juga melakukan hal serupa. Karenanya, sekolah dituntut untuk menjalin komunikasi harmonis dengan orang tua siswa.

Guru dan orang tua harus lebih sering bertukar informasi tentang apa yang telah dilakukan anak seharian di sekolah, dan apa yang dikerjakan selama di rumah. Pertanyaan sederhana ini akan mendorong terbangunnya sistem pengawasan terhadap anak. Yang penting diperhatikan adalah pendekatan kepada anak menghindari sikap yang mengandung unsur kekerasan sehingga mereka benar-benar merasa diayomi bukan ditekan.

Bagaimanapun peserta didik akan tetap bersentuhan dengan dunia maya, yang di dalamnya banyak informasi bermanfaat yang mungkin saja sering mereka akses, namun saat bersamaan tak sedikit tontonan dewasa yang sangat menggoda untuk mereka lewatkan.

Kita masih punya banyak kesempatan untuk membendung dampak buruk kebebasan di era digital ini, kurikulum pendidikan saat ini (K13) telah memberikan ruang yang sangat luas bagi pengembangan karakter peserta didik. Dengan komitmen kuat pendidik serta kerja sama orang tua, kita akan mampu menghindari merosotnya prestasi dan akhlaq peserta didik. Sungguh ironi bila pendidikan harus menghasilkan peserta didik yang sudah tidak cerdas, buruk akhlaq pula.

Sebagai penutup tulisan ini mari sama-sama kita merenungkan kembali firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Al-Quran, Surah Atahrim, Ayat 6).