PPS Alkhairaat Sasa, Ternate. Senin 4 Oktober 2026
Nara sumber: Al-Habib Abdurrahman bin Adam Assagaf (Dari Seiun, Hadramaut).
Mutarjim: Mudirul Mahad Alkhairaat Sasa, Alhabib Abdurrahman bin Kamil Assagaf.
Ilmu Harus Diamalkan
Ilmu akan menjadi ilmu yang bermanfaat apabila diamalkan dalam kehidupan. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk menyembah-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena itu, ilmu yang kita pelajari jangan hanya disimpan dalam ingatan, tetapi harus diwujudkan dalam amal dan akhlak.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Dalam ayat ini, yang menjadi objek adalah اللَّهَ, sehingga maknanya adalah: orang-orang berilmulah yang takut kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pentingnya Mencatat Ilmu
Alhamdulillah, para santri hadir di majelis dengan membawa buku dan mencatat berbagai informasi yang disampaikan. Ini adalah kebiasaan yang sangat baik.
Ketika kita mencatat ilmu, kita menggerakkan pendengaran, penglihatan, tangan, dan pikiran secara bersamaan. Hal tersebut membantu kita untuk lebih fokus dan memperkuat daya ingat.
Apa yang kita dengar hari ini mungkin suatu saat kita lupa. Tetapi ketika kita mencatatnya, catatan tersebut dapat menjadi pengingat dan sumber ilmu yang dapat kita baca kembali.
Karena itu, setiap menghadiri majelis ilmu, biasakan untuk mendengar, memahami, dan mencatat.
Menulis Sebagai Metode Pendidikan
Menulis juga dapat menjadi metode pendidikan yang sangat bermanfaat. Bahkan dalam memberikan sanksi kepada santri yang melakukan kesalahan, sanksi berupa tugas menulis dapat menjadi sarana pendidikan.
Tujuannya bukan sekadar memberikan hukuman, tetapi agar santri belajar, mengingat, dan mendapatkan manfaat dari apa yang ditulisnya.
Dengan demikian, sanksi sekaligus menjadi proses pembelajaran dan dapat menumbuhkan motivasi untuk belajar lebih baik.
Pengalaman dalam Dunia Pendidikan
Beliau menyampaikan bahwa telah berkecimpung dalam dunia pendidikan selama kurang lebih 35 tahun. Sampai saat ini beliau masih aktif mengajar di masjid, perguruan tinggi, berbagai majelis, seminar, dan lembaga pendidikan lainnya.
Beliau menekankan bahwa tugas seorang pendidik adalah menyebarkan ilmu dengan cara yang benar, baik, dan sesuai dengan kebutuhan para penuntut ilmu.
Ilmu yang disampaikan harus berdasarkan dalil, baik dari Al-Qur'an maupun Sunnah, serta disampaikan dengan perkataan yang baik dan cara yang bijaksana.
Islam yang Wasathiyah
Tujuan dakwah adalah mengajarkan Islam yang benar, adil, dan wasathiyah (moderat). Tidak berlebihan ke kanan dan tidak pula berlebihan ke kiri.
Dalam menjelaskan ilmu, kita mengambil pelajaran dari para ulama besar, seperti Imam Syafi'i, Imam Bukhari, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Hanifah, serta para ulama lainnya.
Bahasa Arab Tidak Sulit
Beliau juga memberikan contoh bahwa banyak ulama dan tokoh besar bukan berasal dari bangsa Arab, tetapi mampu menguasai bahasa Arab dengan sangat baik.
Ada yang berasal dari Persia, Pakistan, dan berbagai negara lainnya. Di antaranya ada Syekh Ali Ahmad, yang menempuh pendidikan di Mesir, kemudian menetap dan mengajar di sana. Beliau juga dikenal sebagai penyair dan sastrawan dengan berbagai karya dalam bahasa Arab.
Beliau memberikan contoh tersebut untuk memberikan motivasi kepada para santri:
اللُّغَةُ الْعَرَبِيَّةُ لَيْسَتْ صَعْبَةً، لَيْسَتْ صَعْبَةً أَبَدًا، إِذَا اجْتَهَدْتَ فَسَتَسْتَطِيعُ.
“Bahasa Arab itu tidak sulit, sama sekali tidak sulit. Jika kalian bersungguh-sungguh, kalian pasti mampu.”
Bahasa Arab bukan hanya bahasa bangsa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur'an dan bahasa ilmu Islam.
Banyak ulama besar bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim. Mereka mampu menjadi ulama besar karena kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu.