Sebuah cerpen tentang percakapan terakhir sebelum seorang anak Adam turun ke dunia
Konon, di sebuah
tempat yang tidak terjangkau oleh mata dan tidak terukur oleh waktu, ada sebuah
ruang yang teramat tenang. Tidak ada riuh, tidak ada tergesa.
Cahaya di sana tidak berasal dari matahari, melainkan dari kedekatan itu sendiri, kedekatan antara seorang hamba dan Tuhannya.
Di sanalah seorang calon manusia menunggu. Ia belum bernama, belum bertubuh, belum pernah menangis. Namun hari itu ia tahu bahwa waktunya hampir tiba. Ia akan
dilahirkan ke dunia, dan perpisahan dengan ruang yang selama ini memeluknya sudah tak bisa ditunda.
Ia diam cukup lama. Lalu, dengan suara yang bergetar seperti daun yang hendak gugur, ia berbicara.
Anak — “Wahai Tuhanku, di sini aku sudah merasa nyaman. Aku bisa berbincang denganmu kapan saja. Namun nanti, ketika aku turun ke dunia, aku tidak memahami
bahasa di sana, dan tak ada seorang pun yang bisa berbincang denganku.” Tuhan tersenyum, dan senyum-Nya adalah ketenangan yang menyelimuti seluruh ruang itu.
Tuhan — “Akan Kukirimkan seorang malaikat kepadamu. Ia akan mengajarkan bahasa dunia dengan kelembutan dan kehangatan. Ia akan berbincang denganmu dengan penuh suka cita, bahkan ketika kau belum mampu mengucap sepatah kata pun.”
Anak itu mengangguk pelan. Satu kecemasan telah terjawab, tetapi hatinya masih menyimpan yang lain, yang lebih dalam dan lebih gelap.
Anak — “Wahai Tuhanku, di sini aku merasa aman. Tak ada yang bisa menyakitiku, tak ada yang berniat buruk kepadaku. Aku takut, nanti di dunia akan ada orang jahat yang menyakitiku.”
Hening sejenak. Lalu terdengarlah jawaban yang membuat segala takut mengendur.
Tuhan — “Akan Kukirimkan seorang malaikat yang menjagamu. Ia akan melindungimu, bahkan jika ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.”
Anak itu terdiam. Ia tidak benar-benar mengerti apa arti “mempertaruhkan nyawa”, sebab ia belum mengenal bahaya. Namun ia mengerti satu hal: ada seseorang akan rela berdiri di depannya ketika dunia mengarahkan kerasnya kepadanya.
Anak — “Jika suatu hari nanti aku ingin kembali kepadamu di sini, bagaimana caranya? Dunia itu luas, dan aku khawatir tersesat di dalamnya.”
Tuhan — “Akan Kukirimkan seorang malaikat yang mengajarimu dan membimbingmu, agar kau tahu jalan pulang kepada-Ku.”
Ketiga kecemasan itu kini telah terjawab. Bahasa, perlindungan, dan jalan pulang. Seolah tak ada lagi yang kurang. Namun sang anak belum juga beranjak. Ada satu hal yang mengganjal, satu hal kecil yang terasa begitu besar baginya.
Ia teringat bahwa semua yang dijanjikan itu akan datang dalam rupa seorang malaikat. Seseorang yang akan mengajar, menjaga, dan menuntun. Dan ia ingin sekali
mengenalinya. Ia tak ingin kehilangan malaikat itu hanya karena tak tahu harus mencarinya ke mana.
Anak — “Sebelum aku turun, izinkan aku menanyakan satu pertanyaan terakhir. Bolehkah aku tahu, siapa nama malaikat itu?”
Tuhan memandangnya dengan penuh kasih. Dan pada saat itu, seluruh ruang seakan menahan napas.
Tuhan — “Kau akan memanggilnya IBU.”
*
Maka turunlah anak itu ke dunia. Ia menangis keras pada tarikan napas pertamanya, seperti semua bayi yang pernah lahir. Tangisan itu bukan karena ia takut. Ia menangis
karena baru saja meninggalkan ruang yang paling dekat dengan Tuhannya.
Namun tangisnya tak berlangsung lama. Seseorang mendekapnya erat. Wajah itu pucat dan letih, napasnya masih tersengal, keringat membasahi keningnya. Namun matanya memancarkan cahaya yang pernah dikenal sang bayi, cahaya dari tempat ia berasal.
Perempuan itu berbisik lirih, dengan suara yang paling lembut yang pernah ada di dunia, “Selamat datang, Nak.”
Bayi itu belum mengerti satu kata pun. Tetapi ia mengerti segalanya. Ia tahu inilah malaikat yang dijanjikan. Tidak berjubah putih, tidak bersayap, tidak bercahaya di mata manusia. Ia hanya seorang perempuan yang dahinya berkerut menahan sakit, namun bibirnya tak berhenti tersenyum.
Hari-hari berlalu. Malaikat itu mengajarinya bahasa dunia, kata demi kata, dengan kesabaran yang tak pernah habis: ibu, ayah, minum, makan, sayang. Ia terjaga di malam-malam ketika sang anak demam. Ia melindungi dengan tubuhnya ketika dunia terasa terlalu keras. Dan ia mengajarinya berdoa, menunjukkan arah menuju Dia yang dahulu pernah bercakap dengannya di ruang yang tenang itu.
Anak itu tumbuh dan lupa. Seperti semua manusia, ia lupa pada percakapan di ruang yang tenang itu. Ia lupa pada tiga janji, dan lupa pada nama yang diberikan kepadanya. Ia sering membantah, sering melukai, dan sering menganggap kasih itu sudah semestinya ada.
Tetapi malaikat itu tidak pernah lupa. Ia tetap menjaga, tetap mengajar, tetap menuntun, bahkan ketika tak lagi dihargai, bahkan ketika ia sendiri sudah renta dan langkahnya tertatih.
Hingga pada suatu hari, ketika dunia telah banyak mengajarinya tentang kehilangan, sang anak yang kini telah dewasa duduk termenung. Tiba-tiba ia teringat.
Bukan dengan pikirannya, melainkan dengan hatinya yang paling dalam, tempat segala yang pernah ia ketahui sebelum dilahirkan masih tersimpan.
Ia teringat sebuah percakapan. Sebuah pertanyaan terakhir. Dan sebuah nama.
Air matanya jatuh. Ia bergegas pulang, bukan ke tempat yang tak terlihat itu, tetapi ke pangkuan seseorang yang sejak dulu menunggunya. Ia bersimpuh dan memanggilnya
dengan nama yang diajarkan langit kepadanya: “Ibu.”